Members Online

14 Guests, 0 Users
* * *

Pages: 1 [2] 3 4 ... 6   Go Down
  Print  
Share this topic on DiggShare this topic on FacebookShare this topic on GoogleShare this topic on TechnoratiShare this topic on Twitter
Author Topic: News.  (Read 6025 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #15 on: February 26, 2009, 03:19:13 PM »

Mengolah Gula Aren dengan Bantuan Panas Bumi
 

Senin, 23 Februari 2009 | 20:47 WIB
Laporan wartawan Siwi Nurbiajanti


PANAS BUMI, saat ini menjadi salah satu energi alternatif yang terus dikembangkan di Indonesia. Energi tersebut merupakan energi terbarukan dan berkelanjut an, serta ramah lingkungan. Panas bumi di Indonesia berada dalam jalur vulkanik yang tersebar mulai dari Aceh hingga Sulawesi Utara.

 

Sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, energi panas bumi di Indonesia telah dikembangkan untuk menghasilkan energi listrik. Daerah-daerah yang berada dalam wilayah kerja pengusahaan PT Pertamina Geothermal Energy meliputi Sibayak di Sumatera Utara, Sungai Penuh di Jambi, Lumut Balai di Sumatera Selatan, Hululais di Bengkulu, Kotamobagu dan Lahendong di Sulawesi Utara, Kamojan g di Jawa Barat, serta Ulubelu di Lampung.

Dalam perkembangannya, saat ini energi panas bumi tidak hanya dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik, tetapi juga untuk pengolahan pada industri makanan. Hal tersebut seperti dilakukan di wilayah Lahendon g. Energi panas bumi dari wilayah tersebut juga dimanfaatkan untuk mengolah gula aren di Pabrik Gula Aren Masarang, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Unit pengolahan gula aren Masarang mulai dibangun sejak tahun 2004. Ketua Yayasan Masarang, Willie Smith, Ju mat (20/2) mengatakan, panas bumi digunakan untuk semua proses pengolahan gula aren. Uap dari energi panas bumi diperoleh secara cuma-cuma dari PT Pertamina Geothermal Energy.

Menurut dia, pemanfaatan energi panas bumi untuk mengolah gula aren, sangat mem bantu peningkatan pendapatan sekitar 6.285 petani aren di wilayah tersebut. Pasalnya, aren merupakan salah satu tanaman yang tumbuh secara produktif di wilayah Tomohon. Selain itu, pemanfaatan panas bumi juga ikut membantu mencegah terjadinya kerusakan al am, akibat pengambilan kayu di hutan secara liar.

Smith mengatakan, sebelum berdiri pabrik gula aren, petani aren memasak sendiri nira yang mereka dapatkan. Rata-rata setiap petani membutuhkan 30 kilogram kayu bakar untuk memasak nira segar. Apabila terdap at 3.500 petani yang memasak nira, dibutuhkan sekitar 50.000 meter kubik kayu per tahun, atau setara dengan 200.000 pohon sedang per tahun. "Otomatis mereka mengambil dari hutan, sehingga akan menimbulkan kerusakan lingkungan," katanya.

Selain itu, siste m pengolahan nira aren secara tradisional juga memiliki beberapa kelemahan. Pengolahan tersebut tidak memiliki standar kebersihan, menggunakan produk campuran dengan kadar bervariasi, serta tidak memiliki standar kualitas dan standar bungkus.

Dengan meng gunakan panas bumi, berbagai kelemahan tersebut dapat dihindarkan. Saat ini, produk gula aren dari pabrik gula Masarang diekspor ke Eropa dengan harga sekitar Rp 110.000 per kilogram. Harga tersebut jauh lebih tinggi dari harga gula arean di pasar lokal, yang hanya sekitar Rp 28.000 per kilogram.

Besarnya manfaat panas bumi pada industri pengolahan gula aren juga diakui Direktur Pabrik Gula Aren Masarang, Erwin Tanauma. Saat ini, pabrik gula tersebut mampu memproduksi sekitar 25.000 liter nira per hari, d engan jumlah tenaga kerja 35 orang. Volume gula aren yang dihasilkan dari nira sebanyak itu mencapai sekitar tiga ton per hari.

Menurut dia, petani menyerahkan nira ke pabrik melalui koordinator kelompok tani. Perusahaan membeli nira tersebut seharga Rp 1.000 per liter.

Koordinator petani aren Desa Gayawung, Tomohon, Roli Muningka mengatakan, rata-rata setiap petani mampu menghasilkan sekitar 50 hingga 300 liter nira per hari. Dengan menjual melalui pabrik, penghasilan mereka jauh lebih besar bila diban dingkan harus memasak sendiri nira tersebut.

Pasalnya, harga nira di pasar tradisional sangat murah, hanya sekitar Rp 5.000 per kilogram. Kalau dimasak sendiri, pendapatannya hanya separuh dari kalau dijual di pabrik, katanya.

Koordinator petani Desa taratara, Tomohon, Daniel Rawung mengatakan, penghasilan petani yang menjual nira ke pabrik mencapai dua kali lipat bila dibandingkan petani yang memasak sendiri nira mereka. Meskipun demikian, hingga saat ini, masih terdapat beberapa petani yang memilih memasak nira sendiri.

Mereka terkendala jarak untuk menyetorkan nira ke pabrik. Para petani tersebut menyadap nira pada pukul 06.00 hingga 09.00. Kami menginginkan agar nira sampai ke pabrik pada pukul 08.00, sementara ada petani yang jarak rumahnya jauh, katanya.

Manajer Enjinering Pertamina Geothermal Energy Area Lahendong, Wawan Darmawan mengatakan, pemanfaatan panas bumi secara gratis untuk pengolahan gula aren merupakan salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan atau company s ocial responsibility (CSR). Dengan upaya tersebut, hasil yang diperoleh lebih besar bila dibandingkan dalam bentuk bantuan uang. Selain untuk pengolahan gula aren, saat ini panas bumi juga mulai dikembangkan untuk pengeringan kopra, cengkeh, dan vanili.

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/23/20471096/mengolah.gula.aren.dengan.bantuan.panas.bumi..
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #16 on: February 26, 2009, 04:00:04 PM »

Georadar Lacak Situs Purba

Rabu, 25 Februari 2009 | 15:52 WIB
Oleh Yuni Ikawati

Situs Kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mungkin akan terlindungi dari upaya okupasi peruntukan lain dan penjarahan bila ada upaya pemetaan kawasan itu dengan menggunakan georadar.

Saat ini, dunia arkeologi di Indonesia masih diguncang oleh perusakan situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Situs ini menarik perhatian dengan dilaksanakannya pembangunan Pusat Informasi Trowulan (PIM) di atas lokasi bekas kerajaan tersebut.

Sesungguhnya perusakan situs ini sudah berlangsung lebih lama dan lebih parah daripada yang terjadi akibat pembangunan PIM. Bukan rahasia lagi bahwa tidak sedikit masyarakat lokal yang miskin menggali secara liar situs ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dari kacamata sains dan teknologi, kerusakan sebagian dari situs Majapahit di Trowulan adalah akibat dari belum dikembangkannya ilmu geofisika pada bidang arkeologi. ”Pemetaan arkeologi bawah tanah yang merupakan perpaduan antara geofisika dan arkeologi nyaris tak tersentuh di Indonesia, antara lain karena dianggap kurang mempunyai nilai ekonomis,” ujar Anggoro Sri Widodo, geofisikawan lulusan S-2 ITB yang kini bergabung di CITIC Seram Energy. Di Indonesia, program studi di geofisika terfokus pada bidang minyak dan gas bumi, eksplorasi mineral, geotermal, gempa dan tsunami, serta cuaca.

Karena adanya kesamaan teori, konsep, metode interpretasi antara geofisika migas dan geofisika-arkeologi, tidak sulit memetakan situs Majapahit di Trowulan yang telah terpendam.

Yang membedakan untuk eksplorasi migas digunakan energi gelombang getaran seismik untuk mendapatkan citra bawah permukaan, sedangkan untuk kepentingan pemetaan arkeologi digunakan sumber gelombang radar (ground penetration radar/GPR).

Pemetaan GPR menggunakan pulsa radar frekuensi tinggi yang dipancarkan dengan antena dari permukaan ke dalam tanah. Gelombang ini kemudian diteruskan dan dipantulkan kembali oleh benda-benda yang terpendam di dalam tanah. Kemudian data pantulan gelombang ini akan direkam di dalam domain waktu dan citra yang dihasilkannya kemudian dikonversi ke domain kedalaman.

Citra bawah permukaan digambarkan dalam bentuk amplitude gelombang. Amplitude ini menggambarkan perubahan cepat rambat gelombang pada benda terpendam maupun sedimen tertutup. ”Batu candi atau benda peninggalan lainnya mempunyai cepat rambat gelombang yang lebih tinggi daripada sedimen penutupnya,” ujar Anggoro menguraikan.

Sementara itu, peneliti di Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (TISDA) BPPT, Djoko Nugroho, mengungkapkan, aplikasi georadar telah dilakukan dalam pencarian bekas Kerajaan Sumbawa yang terpendam akibat letusan Gunung Tambora di pulau di Nusa Tenggara Barat. Pencarian melibatkan peneliti ITB ini berhasil menemukan lokasi situs kerajaan tersebut.

BPPT pun, katanya, juga pernah menggunakan georadar untuk pendeteksi keberadaan situs purba di kota Pagar Alam di Desa Rimba Candi, Sumatera Selatan, yang terkubur akibat letusan Gunung Dempo. Situs itu merupakan peninggalan peradaban megalitikum.

Aplikasi lain

Pengujian georadar di Indonesia pertama kali dilakukan oleh BPPT pada November 1996, kata Lena Sumargana, peneliti geofisika di P3 TISDA BPPT. Uji coba georadar ketika itu dilakukan untuk survei utilitas yang tertanam pada jalur Sarinah-Gambir.

Bekerja sama dengan Dinas Pemetaan DKI Jakarta pada tahun 1997, BPPT kemudian memetakan secara terpadu utilitas yang tertanam di bawah tanah, meliputi jaringan kabel telepon, listrik, pipa air, dan pipa gas. Sistem georadar menjangkau obyek di kedalaman 25 meter.

Peralatan georadar juga dimiliki Direktorat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral BPPT. Sistem georadar ini bekerja dua kali lebih cepat dibandingkan dengan yang dimiliki P3 TISDA BPPT. Ketika digunakan untuk mendeteksi penurunan permukaan tanah di Kantor Pusat BPPT di Jalan Thamrin, Jakarta, Juni 2008, hanya butuh tiga jam untuk memantau struktur lapisan bawah tanah pada 15 lintasan yang panjangnya masing-masing 20 meter.

Georadar juga digunakan untuk membantu pengungkapan kasus kriminal—pertama kali dilakukan, Januari 2001. Ketika itu dengan peralatan georadar dari Kanada, BPPT membantu polisi menemukan lokasi bungker persembunyian Hutomo Mandala Putra atau Tommy yang ditemukan di pojok Jalan Cendana dan Jalan Yusuf Adiwinata.

Di banyak negara maju, teknologi ini juga digunakan untuk menemukan tempat penguburan korban pembunuhan dan obat-obat terlarang. Juga digunakan untuk mendeteksi ranjau.

Pengoperasian georadar

Georadar beroperasi pada frekuensi 25 megahertz-1.200 megahertz. Untuk deteksi pipa besi atau beton sebagai sarana utilitas, misalnya, digunakan frekuensi 1.000 megahertz yang jangkauannya berkisar 0,5 meter-4,0 meter. Untuk obyek pada kedalaman 35 meter-60 meter digunakan frekuensi 25 megahertz.

Tampilan profil yang tampak di layar monitor berupa irisan suatu lapisan demi lapisan seperti kue lapis legit yang disayat vertikal. Bila di sepanjang garis penyisiran terdapat rongga atau obyek tertentu, akan tampak perbedaan nyata pada citra berbeda rona atau kontras.

Pada masa mendatang, georadar juga memungkinkan dioperasikan dari wahana yang melayang di atas permukaan tanah, seperti helikopter.


Sumber : Kompas Cetak

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/25/1552238/georadar.lacak.situs.purba
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #17 on: March 06, 2009, 09:46:28 AM »

Kehidupan Baru di Tepi Kali Gendol
 

Kamis, 5 Maret 2009 | 19:04 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Wawan H. Prabowo


KUNTUM bunga Eidelweis (Anaphalis javanica) menjadi sebentuk kehidupan baru pascaerupsi Merapi 2006 lalu yang banyak tumbuh di tepi Kali Gendol, Dusun Kopeng, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (5/3). Eidelweis menjadi tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda yang biasanya tumbuh di puncak gunung atau pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Eidelweis juga dikenal sebagai bunga abadi karena pohonnya bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun dan bunganya tak pernah layu setelah dipetik. WAK

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/03/05/19044628/berita.foto.kehidupan.baru.di.tepi.kali.gendol
Logged
Krupoek_MLarat
HUMAS
Mayor Jendral
****

GRP: 6
Posts: 1014


~:Times Up:~

t00ghe@hotmail.com t00ghe@yahoo.com
Email
« Reply #18 on: March 17, 2009, 04:37:35 AM »

Di Manakah Tempat Paling Kering Di Dunia?

Antartika merupakan tempat paling kering didunia, gurun didefinisikan dengan ketat sebagai sebuah tempat yang menerima curah hujan kurang dari 254mm (10 inci) setahun. curah hujan di gurun sahara hanya 25mm (1 inci) setahun. rata-rata curah hujan tahunan Antartika kurang lebih sama, tetapi 2 persen dari wilayah Antartika, yang dikenal sebagai lembah-lembah kering, tidak memiliki es dan salju dan tak pernah dituruni hujan sama sekalih. tempat paling kering di dunia yang berikut adalah gurun Atacama di Cile. beberapa wilayah di sana tak pernah disirami air hujan selama 400 tahun dan rata-rata curah hujan tahunannya hanya 0.1mm. secara keseluruhan, tempat ini paling kering di dunia, 250 lebih kering daripada sahara. selain sebagai tempat paling kering di dunia, Antartika juga dapat dinyatakan sebagai tempat yang paling basah dan paling berangin. tujuh puluh persen air dunia ditemukan di sana dalam bentuk es, dan anginnya berhembus dalam kecepatan paling kencang yang pernah dicatat.
kondisi-kondisi unik di lembah-lembah kering Antartika tersebut disebabkan oleh apa yang dinamakan angin katabatic (dari bahasa Yunani yang atinya "turun ke bawah". angin ini muncul ketika udara yang dingin dan pekat ditarik ke bawah hanya dengan kekuatan gravitasi. kecepatan angin ini dapat mencapai 320 kilometer per jam, menguapkan semua yang basah-air, es, dan salju-dalam pergerakannya. ironisnya, meskipun Antartika merupakan sebuah gurun, bagian-bagiannya yang benar-benar kering disebut oasis. daerah-daerah ini begitu mirip dengan keadaan di Mars sehingga NASA menggunakan Antartika sebagai tempat uji coba misi Viking.

Sumber : http://id.shvoong.com/exact-sciences/1874968-di-manakah-tempat-paling-kering/
Logged

~::++++++::~
jenggot
Mayor Jendral
*****

GRP: 45
Posts: 812



« Reply #19 on: March 28, 2009, 09:06:45 PM »

Kealamiahan Tragedi Situ Gintung
oleh : jenggot

Padahal belum lama saya membaca beberapa artikel lepas yang membahas bagian dari pohon gintung yang memiliki khasiat sebagai pengusir nyamuk. Mendengar nama gintung pun bagi orang sunda bukanlah sebuah kata yang aneh. Di bogor ada daerah bernama lawang gintung, dan di jawa barat bagian selatan di banyak sungai tumbuh pohon2 gintung.

Tetapi tiba2 nama “gintung” ini mendadak menjadi buah bibir karena tragedi jebolnya dinding penahan danau buatan (bendungan) yang berada di perbatasan provinsi jakarta dan provinsi banten yang terjadi jum’at pagi 27 Maret 2009. Apa yang terjadi disana?

Seharian penuh seluruh media massa elektronik nasional membahas habis2an tragedi ini mulai dari sisi korban, bantuan, politik sampai posko parpol yang bertebaran di sekitar lokasi. Saya sangat senang dengan antusiasme media2 di Indonesia dengan kerja cepat dan teknik2 penyajian “up to date” berkaitan dengan bencana2 di Indonesia akhir2 ini, meski masing2 media melakukan kesimpulan penyebab jebolnya tanggul penahan bendungan ini secara sendiri2 dan berbeda2.

Sayang pendapat media2 dalam merumuskan penyebab tragedi ini “terkesan” menggiring opini publik untuk menyalahkan pemerintah karena kelalaiannya sehingga menyebabkan terjadinya bencana situ gintung ini. Meski secara pribadi sayapun setuju jika pemerintah layak dipersalahkan dalam pengelolaan tata kota dan AMDAL dari perluasan wilayah selatan jakarta. Tetapi secara khusus, bencana situ gintung ini saya pikir alamiah.

Kealamiahan tragedi situ gintung ini saya simpulkan dari kronologis kejadian. Hujan lebat (beberapa disertai butiran es) yang terjadi kamis sore di puncak, bogor dan jakarta selatan sebagai hulu dari banyak sungai2 yang bermuara di pantura menyebabkan debit air di sungai2 yang berarah selatan – utara pastilah besar. Bahkan dalam update BMKG bahwa pada kamis sore – malam hari 26 Maret 2009 ini, curah hujan yang terjadi sangat besar dengan sebaran lokal (sporadis) sehingga menyebabkan situ gintung sebagai salah satu daerah dengan curah hujan yang tinggi pada kamis sore itu mendapat pasokan debet air yang sangat tinggi (tertinggi selama musim hujan tahun ini).

Pada malam hari setelah hujan reda, situ gintung ini terus mendapat pasokan air yang tinggi dari hulu2 sungai dan akhirnya “overflow” (meluber) pada pukul 22.00WIB di titik terendah situ gintung ini yang kemudian menjadi jalur bencana keesokan harinya. Dua jam selanjutnya (pukul 24.00WIB) sedikit demi sedikit tanggul penahan bendungan longsor dan saat itupun masyarakat sudah mengetahui bahwa kemungkinan tanggul akan jebol jika debit air danau tetap “overflow”. Pukul 01.00WIB, masyarakat di sekitar titik longsor sudah mengetahui kondisi kritis tanggul dan sebagian sudah mengungsi.

Dan pada pukul 04.30 WIB tanggul yang sudah “basah” di dua sisinya akhrinya jebol selebah sekitar 40meter dan melepaskan lebih dari 1 miliar liter air (akumulasi sampai 6 jam setelah kejadian) dan mengakibatkan kerusakan masif di jalur2 yang dilewatinya sampai sejauh radius 2 km dari lokasi jebolnya tanggul.

Saya kira bagaimanapun hebatnya sebuah bendungan yang dibangun dengan tumpukan “tanah urug” dengan secanggih apapun teknologi yang digunakannya, jika kondisi bendungan sudah “overflow” dan air limpahan “overflow” nya sudah mengalir hingga kaki2 tanggul, pastilah jebol..!!! (CMIIW).

Sehingga alasan umur bendungan (danau buatan) serta ketahanan konstruksi saya kira adalah kecenderungan sebuah spekulasi dalam mencari jawaban penyebab tragedi ini, meskipun perlu dilakukan penelitian2 lebih lanjut agar penyebab sebenarnya dapat segera diketahui. Tujuh jam setelah kejadian terjadi, pemerintah langsung mendatangkan ahli geologi dari jepang untuk mencari solusi dari bencana yang terjadi ini. Meski terkesan terburu2 dan “panik”, tetapi mari kita tunggu hasil2 positif dari pemerintah dalam melakukan mitigasi bencana2 geologi di Indonesia.

Ayo kita sama Bantu mereka….. monggo humas nya silahkan….

Salam.
Logged

Harta yang paling berharga adalah keluarga....(me,my hun & 2 litle junior)
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #20 on: March 31, 2009, 09:07:06 AM »

Dunia Kehilangan 70 Juta Hektar Hutan dalam 15 Tahun

Selasa, 17 Maret 2009 | 09:26 WIB
ROMA, KOMPAS.com — Dunia kehilangan 70 juta hektar hutan dalam 15 tahun antara 1990-2005. Demikian laporan Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO) yang disiarkan Senin (16/3).

Menurut laporan berjudul "State of the World's Forest", kebanyakan penggundulan hutan terjadi di Amerika Selatan, Afrika, dan Karibia. Faktor pemicu pengurangan luas hutan terutama didorong tingginya harga pangan dan bahan bakar akan mendorong kegiatan pembersihan hutan bagi produksi hewan ternak dan lahan pertanian untuk menghasilkan makanan, sumber nafkah, dan bahan bakar bio.

Dari 1990 sampai 2005, Amerika Latin kehilangan 64 juta hektar hutan. Luasan ini mewakili sebanyak tujuh persen dari seluruh jumlah hutan di dunia, kata laporan tersebut.

Afrika kehilangan delapan juta hektar hutan dari 1990 sampai 2005. Di Afrika, kehilangan hutan tampaknya akan berlanjut dengan kebijakan saat ini. Laporan tersebut menegaskan bahwa kemarau yang kian sering terjadi, turunnya pasokan air, dan banjir akan merusak upaya guna mengelola hutan Afrika secara berkelanjutan.

"Di Asia dan Pasifik, tempat lebih dari separuh penduduk dunia dan sebagian negara yang berpenduduk paling padat di dunia, tuntutan akan kayu dan produk kayu diperkirakan terus naik sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan penghasilan," kata laporan itu.

FAO menyatakan langkah penggurunan di negara berkembang tampaknya tak akan turun dalam waktu dekat.


WAH
Sumber : Antara

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/03/17/09263314/dunia.kehilangan.70.juta.hektar.hutan.dalam.15.tahun
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #21 on: April 03, 2009, 09:03:41 AM »

Jembrana Ubah Air Laut jadi Air Mineral
 

Jumat, 3 April 2009 | 07:17 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Kabupaten Jembrana, Bali, telah mengolah air laut menjadi air mineral yang langsung bisa diminum dan telah disalurkan di 120 titik lokasi pelayanan umum seperti kantor pemerintah, rumah sakit dan sekolah.
   
"Kandungan oksigen air ini mencapai 29 ppm atau lebih tinggi dibanding air mineral kemasan yang di bawah 25 ppm, sehingga air ini merupakan air sehat yang jika rutin meminumnya bisa membuat awet muda," kata Kabid Kominfo Dinas Perhubungan Kabupaten Jembrana, Komang Wiasa, di Jembrana, Jumat.
   
Air laut hasil proses yang terdaftar di BPOM dan MUI sejak 2006 itu, lanjut dia, untuk mengatasi perebutan air dengan petani berhubung Jembarana merupakan daerah kering serta untuk mengurangi eksploatasi air tanah.
   
"Ini juga untuk memanfaatkan Jembrana yang berbatasan dengan pantai sepanjang 76 kilometer. Jadi kami sudah lama mengantisipasi 'global warming' dan kekurangan air di masa depan," katanya.
   
Awalnya pemrosesan air laut tersebut sudah dimulai seorang warga bernama Dairin, lalu dengan dibantu BPPT dan Kementerian Ristek pihaknya mengembangkannya menjadi mesin pemroses air laut berkapasitas besar 30 ton per hari.
     
"Caranya sederhana saja, ada filter pemisah air laut dari kadar
garamnya sehingga yang keluar air tawar. Lalu disambungkan melalui pipa ke air laut sepanjang 12 kilometer," katanya sambil menambahkan bahwa inovasi air sehat ini baru ada di Jepang dan Korsel.
   
Sementara itu, Bupati Jembrana I Gede Winasa sebelumnya
mengakui dana yang dibutuhkan untuk inovasi itu cukup besar mencapai Rp5,6 miliar. Namun menurut dia tak ada yang mahal jika untuk rakyat.
   
"Saya bisa menjualnya Rp 150 per liter, bandingkan dengan minuman kemasan yang harganya sampai ribuan rupiah per liter," katanya dengan menambahkan air kemasan mahal di kemasannya.
   
Menurut dia, pengolahan air laut menjadi air mineral juga bisa dilakukan di daerah-daerah lain yang kekeringan.


ABI
Sumber : Ant

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/03/07175127/Jembrana.Ubah.Air.Laut.jadi.Air.Mineral
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #22 on: April 07, 2009, 09:04:50 AM »

Bandara Bandung Paling Sulit Didarati
 
Selasa, 7 April 2009 | 07:35 WIB
BANDAR Udara Husein Sastranegara, Bandung, memang dikenal sebagai bandara yang memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Di tataran pilot Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia yang selalu memberikan kelas pada setiap bandara yang dilewati, Husein Sastranegara menjadi salah satu yang paling sulit.

Berikut ini penuturan Capt R Muh Syafei, mantan Pilot Garuda Indonesia, tentang Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dibandingkan dengan bandara lain di Indonesia.

* * * * *

KALAU kita mengelompokkannya, Bandara Husein Sastranegara masuk dalam bandara dengan tingkat kesulilitan IV, atau yang paling sulit. Selain Husein Sastranegara ada bandara lain yang sama sulitnya yaitu bandara lama Padang, Bandara Samratulangi (Manado) dan Bandara Patimura (Ambon).

Sedangkan untuk bandara dengan faktor kesulitan yang paling rendah masuk dalam tingkat I seperti Bandara Depati Amir (Pangkalpinang) dan Teluk Betung (Lampung).

Dari bandara-bandara di tingkat IV, Husein Sastranegara juga terbilang paling sulit. Letak geografis menjadi faktor utama kesulitan tersebut, selain terletak di daerah pegunungan, karena Bandung adalah kota di ketinggian, maka cuaca pun sangat berpengaruh. Angin kencang berputar pun kerap terjadi.

Karena dikelilingi oleh pegunungan bandara ini hanya memiliki satu celah untuk masuk yaitu celah Padalarang. Dari celah itu pesawat bisa mendarat atau menerbangkan pesawat di runway yang tergolong pendek.

Nah situasinya jadi akan sulit apabila cuaca tiba-tiba memburuk. Di sini pilot harus mampu membuat keputusan secara cepat dan tepat. Dan dibutuhkan pengalaman yang cukup, untuk bisa membaca tanda-tanda alam. Bayangkan saja bila situasinya berkabut, sulit untuk melihat pegunungan yang berderet disamping runway.

Maka tidak heran apabila di bandara ini sering terjadi kecelakaan pesawat, itu terjadi sejak dulu. Pernah juga tahun 70-an pesawat Dakota milik Garuda jatuh di sana karena cuaca buruk.

Karena sangat sulitnya, Garuda saat itu juga membuat kebijakan agar kapten pilot baru tidak boleh menerbangi ke bandara ini. Pilot in command haruslah pilot yang telah dua tahun menjadi kapten. Sedangkan kopilotnya harus pengalaman empat tahun menjadi kopilot.

Pada cuaca hujan dan berkabut akan menjadi masalah besar dalam penerbangan di Husein Sastranegara. Karenanya pilot harus benar-benar menggunakan prosedur penerbangan dengan penuh disiplin. Pilot tidak boleh memaksakan untuk terbang atau mendarat pada situasi seperti ini. Mendingan pendaratan ditunda karena bisa membuat celaka.


EWA
Sumber : Persda Network

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/07/07353222/Bandara.Bandung.Paling.Sulit.Didarati
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #23 on: April 14, 2009, 11:14:57 AM »

Populasi Macan Tutul di Gunung Halimun-Salak Terancam Punah


Senin, 13 April 2009 | 21:49 WIB
LEBAK, KOMPAS.com - Populasi macan tutul (Panthera pardus) di hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) terancam punah akibat pemburuan yang dilakukan warga sekitar sehingga perlu dilakukan pengamanan.

"Sekitar tahun 1900-an populasi macan tutul diperkirakan 50 sampai 100 ekor, namun saat ini sulit ditemukan jejaknya," kata Kepala Bidang Kehutanan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kabupaten Lebak, Asep Mauladi di Rangkasbitung, Senin (13/5).

Asep mengatakan, selama ini populasi macan tutul di kawasan TNGHS semakin berkurang, bahkan terancam punah karena saat ini keberadaan macan tutul yang ada diperkirakan antara 10 sampai 17 ekor. Perkiraan tersebut berdasarkan pendataan yang diterima dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Oleh karena itu, pihaknya merasa prihatin dengan berkurangnya populasi macan tutul tersebut. "Saya berharap polisi hutan Balai konservasi TNGHS melakukan kOrdinasi untuk pengamanan satwa-satwa langka itu," katanya.

Saat ini, Balai Konservasi TNGHS tidak ada kordinasi dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak untuk melakukan pengamanandan serta pengawasan binatang langka itu.  Sebagian besar kawasan TNGHS masuk pada wilayah Kabupaten Lebak, selain Bogor dan Sukabumi sehingga pihaknya juga merasa tanggung jawab untuk melakukan pengamanan dan pengawasan satwa langka tersebut.

"Kalau populasi macan tutul punah tentu yang merugi kita sendiri termasuk anak dan cucu," ujarnya.

Dia menyebutkan, pihaknya pernah melakukan pengamanan macan tutul tahun 1900-an di Blok Cikijang Cibeber dan Gunung Gede Panggarangan saat itu pihaknya menemukan puluhan jejak macan tutul. Namun demikian, saat ini pihaknya sulit untuk menemukan macan tutul akibat adanya pemburuan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

"Saya kira jika pengamanan di TNGHS tidak ketat kemungkinan satwa langka lainya juga bisa punah," ujarnya.

Sementara itu, sejumlah pencinta binatang langka Kabupaten Lebak mengaku saat ini banyak pemburuan masuk ke wilayah hutan konservasi TNGHS. Mereka melakukan pemburuan dengan menggunakan anjing sebagai alat pelacak.

"Hasil pemburuan itu mereka dijual dalam keadaan hidup-hidup. Jika kondisi mati biasanya digunakan air pengeras," kata Dede (35) warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak.


WAH
Sumber : Antara

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/04/13/21493342/populasi.macan.tutul.di.gunung.halimun-salak.terancam.punah
Logged
pendakilemot
Sersan Mayor
***

GRP: 1
Posts: 92


« Reply #24 on: April 17, 2009, 06:26:25 AM »

Dear teman-teman gappala dan para mody, maaf mo numpang ngasih titipan info
...
 
Pers Release: Aksi Lingkungan “Terbitlah Terang di Bumi nan Hijau”
 
Tanggal 21 dan 22 April adalah tanggal bersejarah di Indonesia dan dunia. Tanggal 21 April merupakan hari kelahiran R.A Kartini dan tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia yang diprakarsai oleh Gaylord Nelson (22 april 1970) yang memasukkan isu lingkungan hidup ke dalam kurikulum resmi perguruan tinggi dan saat ini peringatan tersebut merupakan peringatan ke-39 secara global.
 
Semangat R.A Kartini dalam memperjuangkan kaum perempuan untuk kehidupan yang lebih baik dalam dunia pendidikan dengan slogan popular “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan tekad Nelson terhadap upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup secara nyata dan berkesinambungan patut dituangkan dalam kepedulian nyata baik di dunia pendidikan dan untuk bumi ini, Komunitas bRANTAI mengkristalkan semangat ini dalam bentuk Aksi Lingkungan di SD Negeri Cikoneng, satu-satunya SD Negeri terisolir yang masih berdiri di tengah hamparan perkebunan teh di Kampung Cikoneng Desa Tugu utara Kecamatan Cisarua, Bogor (5.5 km dari Telaga Warna, Puncak). Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu 18 April 2009 pukul 07.00-13.00 WIB bertempat di halaman sekolah dasar tersebut.
 
Tema kegiatan ini adalah “Terbitlah Terang di Bumi nan Hijau” yang dikemas dengan kegiatan games sains lingkungan, pemutaran film lingkungan, penyuluhan pola hidup sehat sejak dini, program gemar membaca, dan pelatihan manajemen perpustakaan.
 
Sasaran kegiatan ini adalah siswa dan guru SD Cikoneng yang berjumlah 192 murid dan 9 orang guru. Tujuan kegiatan ini adalah menanamkan kepada siswa pentingnya menjaga kelestarian alam, menumbuhkan minat belajar terutama mata palajaran yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam, meningkatkan pemahanam pentingnya menjaga kesehatan dan membiasakan pola hidup sehat, menumbuhkan minat baca, dan memberikan pelatihan manajemen perpustakaan kepada para guru.
 
Panitia yang dapat dihubungi untuk acara ini adalah Sen Diskater di nomor telepon 081218009874.
 
Hormat Kami,
Panitia Aksi Lingkungan “Terbitlah Terang di Bumi nan Hijau”
 
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
/amsi
Logged
Krupoek_MLarat
HUMAS
Mayor Jendral
****

GRP: 6
Posts: 1014


~:Times Up:~

t00ghe@hotmail.com t00ghe@yahoo.com
Email
« Reply #25 on: April 18, 2009, 03:10:26 AM »

nice inpoh pakde...
semoga acara tersebut lancar dan sukses selalu...
thankyu... ;Datas inpohnya...
salam...
Logged

~::++++++::~
mis.mr
Sersan
**

GRP: 0
Posts: 31


« Reply #26 on: April 18, 2009, 03:47:53 AM »

Ikutan yah om willy,sorry kalo salah t4...
Tubuh Manusia Sebagai Pembangkit Listrik?

Jangan meremehkan tubuh manusia. Aliran darah kita ternyata bisa menghasilkan energi yang mampu menghidupkan iPod dan ponsel! Konversi getaran frekuensi rendah seperti gerakan tubuh, degup jantung, juga bisa diubah menjadi listrik menggunakan jaringan nano oksida zinc. Jaringan nano ini adalah  piezoelectric, bahan yang menghasilkan listrik terkini ketika terhubung dengan tekanan mekanis.

Jadi kelak saat kita berjalan-jalan jarak jauh, maka gerakan tubuh kita bisa menghasilkan energi listrik. Beragam piranti elektrik kecil seperti iPod atau ponsel dapat terhubung ke lutut kita demi “menyedot” energi melalui alat nano super mungil seukuran seperdualima rambut manusia.

“Riset ini akan memberi pengaruh besar pada teknologi pertahanan, monitor lingkungan, sains biomedis dan pernagkat personal,” jelas Zhong Lin Wang, profesor School of Material Science and Engineering di Georgia Institute of Technology.
Tahun 2006 tim Wang pernah memperkebalkan nanogenerator dan kemampuan menghasilkan kekuatan dari gelombang ultrasonik pada tahun 2007.

Menurutnya, jaringan nano bisa terbuat dari bahan metal, keramik, polimer atau kain. Bahkan alat ini bisa juga ditanamkan di bawah kulit manusia. Aduh, kelamaan mahluk hidup menjadi pembangkit tenaga listrik juga ya?

Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience
Info : www.netsains.com


Maap kalo kurang berkenan, maklum newbie bin anyar Grin
Salam kenal...ajah.
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #27 on: May 04, 2009, 09:45:38 AM »

Inilah Kamera Tercepat Sedunia
 

Jumat, 1 Mei 2009 | 08:05 WIB
LOS ANGELES,KOMPAS.com-Sistem pengambilan gambar tercepat dipertunjukan oleh para ilmuwan dalam laporan di Journal Nature, Kamis (30/4).

Kamera mereka menangkap setengah miliar gambar dalam satu detik, lebih dari enam juta gambar tersebut ditangkap secara beruntun dalam hitungan sedetik.

Kamera itu bekerja dengan menggunakan tekanan laser beredar cepat di udara dan selanjutnya dibagi dalam satu waktu dan dideteksi secara elektronik. Pendekatannya akan berupa alat instrumen dalam menganalisa, sebagai contoh untuk mengalirkan sampel darah dalam pencarian sebuah sel penyakit.

Hal menarik lainnya adalah, kamera ini bekerja hanya dengan satu alat deteksi daripada jutaan yang digunakan oleh kamera digital. Teknik mengumpulkan uap energi atau mengkodekan gambar dengan kuat ini tergantung pada kehati-hatian manipulasi yang disebut sebagai tekanan titik laser yang terus menerus.

Tekanan ini, kurang dari jutaan dari jutaan panjang perdetik mengandung beragam jenis warna. Ini adalah ''Pelangi 2-D'' yang menyinari sebuah sampel. Bagian dari pelangi itu direfleksikan dengan sampel - tergantung dari pencahayaan dan wilayah gelap titik yang disinari - dan pencitraan itu kembali dijalur yang pertama dilalui.

Karena penyebaran tekanan dari beragam warna itu sangat tetap dan berurutan, ragam warna yang dicitrakan akan memenuhi ruang informasi sampel itu. "Titik-titik yang terang akan merefleksikan panjang gelombang tapi tidak untuk yang gelap," kata Bahraim Jalali, Profesor yang memimpin riset ini dari University of California, Los Angeles. "Ketika pelangi 2-D mencitrakan objek, gambar akan dicetak ulang menjadi titik spektrum berwarna."

Titik spektrum berwarna ini kemudian kembali melewati optik yang menyebar dan berubah menjadi sebuah titik kecil cahaya, dengan menghasilkan gambar yang berisi dengan beragam warna. Bagaimanapun, spektrum warna itu bercampur dengan sesuatu pengecualian dari titik cahaya yang pendek yang tidak mungkin dicapai dalam alat elektronik tradisional.

Tim ini kemudian mengarahkan titik ke dalam sesuatu yang disebut serat yang menyebar, datang dari waktu yang berbeda di akhir serat. Hal itu tetap barada dalam cahaya ketika keluar dari kabel serat dengan photodiode yang standar dan dimasukan ke dalam pola data digital, membagi bagian lain dari titik yang tiba dari wilayah yang berbeda dalam ruang dua dimensi.

Hasil dari rangkaian optik itu adalah sebuah gambar yang merepresentasikan rangkaian potret hanya dengan jangka waktu 440 triliun per detik.
 

ONO
Sumber : BBC

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/05/01/0805434/inilah.kamera.tercepat.sedunia
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #28 on: May 04, 2009, 09:51:54 AM »

Eh, Air Tambang Pun Bisa Langsung Diminum
 

Jumat, 1 Mei 2009 | 10:19 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Air limbah tambang ternyata bisa diolah menjadi air bersih yang bisa langsung diminum manusia. Sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR), PT Adaro Indonesia sudah mengolah air bekas limbah batu bara dengan mengembangkan sistem pengelolaan air limbah yang diberi nama water treatment plant (WTP) T-300 pada pertengahan tahun 2008. T-300 adalah nama sebuah blok pada bagian barat tambang Tutupan.

“Karena berlokasi di bagian ujung barat tambang Tutupan, biasa juga disebut blok T-300, maka alat pengolah air limbah ini kami namakan WTP T-300,” sebut Waste Water Supervisor PT Adaro Indonesia Ahmad Helmi.

Sampai saat ini, menurut Helmi, WTP T-300 mampu memproduksi maksimal air bersih siap minum sebesar 20 liter per detik atau 72 m3 per jam dengan 2 tangki penampungan hasil olahan berkapasitas 450 m3 dan 72 m3.

Adapun proses pengolahan air di WTP ini melalui beberapa tahap. Pertama adalah pH adjustment atau biasa disebut netralisasi. Selanjutnya proses coagulasi dan flocculasi yang berfungsi sebagai penjernihan atau mengendapkan partikel-partikel terlarut yang ada dalam air. Terakhir adalah corrinasi berfungsi desinfektan untuk membunuh bakteri, seperti E-coli dan coliform.

"Proses ini diperlukan guna memenuhi standar baku mutu sebagaimana Peraturan Menkes RI No 416/MENKES/PER/IX/1990 dan Kep Menkes RI No 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang standar air minum dan air bersih," tambah dia.

Ditegaskan Helmi, air yang tadinya telah sesuai standar baku mutu, ditingkatkan kualitasnya menjadi air bersih yang dapat langsung diminum. "Air juga telah melalui berbagai tahapan penelitian agar aman untuk dikonsumsi. Air yang diproduksi dari WTP ini sudah dikonsumsi oleh karyawan Adaro dan mitra kerjanya," ungkapnya.

Selain sudah dikonsumsi kalangan internal Adaro, air pengolahan tersebut juga sudah dinikmati oleh masyarakat sekitar tambang dengan pendistribusian melalui tangki-tangki air.

Perusahaan pertambangan batubara yang beroperasional di Tanah Sanggam dan Saraba Kawa, Kalimantan Selatan, ini dalam waktu dekat akan melakukan pipanisasi ke Desa Dahai dan Padang Panjang. “Dalam waktu dekat, air bersih tersebut juga akan dialirkan ke rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Saat ini akan dilaksanakan tender untuk mencari mitra kerja yang akan mengerjakan proyek pipanisasi itu,” imbuh Section Head Comdev PT Adaro Indonesia Abdurrahman.

Menurut Abdurrahman, pihak konsultan perencana telah menyelesaikan 90 persen teknis perencanaan pipanisasi. Direncanakan, tahun ini masyarakat Desa Padang Panjang dan Dahai bisa menikmati saluran air dimaksud, hingga masuk langsung ke dalam rumah mereka. “Diharapkan proyek pipanisasi yang panjangnya kurang lebih 10 km ini akan selesai tahun 2009,” ungkap Abdurrahman.

Atas terobosan melahirkan WTP T-300 ini, PT Adaro Indonesia mendapatkan penghargaan dalam Indonesian CSR Awards 2008, yaitu terbaik kedua bidang lingkungan untuk program produk air bersih dengan memanfaatkan air limbah tambang. (*)

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/05/01/10191582/eh.air.tambang.pun.bisa.langsung.diminum
Logged
Willy SERGAP
Kapten
*****

GRP: 0
Posts: 267

onkykumala
« Reply #29 on: May 06, 2009, 07:46:58 AM »

Gua Raksasa di Vietnam Mungkin Terbesar di Dunia
 

Rabu, 6 Mei 2009 | 05:08 WIB
HANOI, KOMPAS.com - Sebuah gua di dalam Taman Nasional Phong Nha-Ke Bang, Vietnam digadang-gadang sebagai gua terbesar di dunia. Betapa tidak, lebar rongganya mencapai 150 meter dan tingginya 200 meter.

"Gua tersebut panjangnya 6,5 kilometer saat ini namun ujung rongganya masih berlanjut dengan dinding kalsit setinggi 45 meter yang menghentikan langkah kami," ujar Adam Spillane, salah satu anggota tim ekspedisi dari Inggris yang menelusuri gua tersebut.

Gua yang diberi nama Hang Son Doong atau berarti gua sungai pegunungan itu ditemukan pertama kali oleh penjaga hutan bernama Ho Khanh tahun 1991. Namun tak seorang pun yang pernah menelusurinya karena besarnya serta tekanan angin yang tinggi karena adanya sungai bawah tanah yang sangat besar.

Sebanyak 13 orang gabungan penjelajah dari Universitas Sains Vietnam dengan penjelajah Inggris akhirnya menggelar Caving Expedition 2009 masuk ke dalam gua. Mereka menghabiskan waktu lima hari pada pertengahan April lalu untuk menyurvei jalur gua.

Dengan membawa alat ukur berbasis laser LaserRace 300, tim dapat mengukur tinggi langit-langit dan lebar rongga di sepanjang perjalanan dengan harapan dapat membuat petanya. Saat ini datanya masih dianalisis.

Namun, hasil laporan awal menunjukkan besar rongga utamanya mencapai dua kali lipat rekor gua terbesar saat ini. Jadi, Hang Son Doong mungkin gua terbesar yang ada di dunia saat ini.

WAH
Sumber : daily mail

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/05/06/05080284/Gua.Raksasa.di.Vietnam.Mungkin.Terbesar.di.Dunia
Logged
Pages: 1 [2] 3 4 ... 6   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Subject Started by Replies Views Last post
Riverboarding (Selancar Sungai) Rider lukmanmpro 6 1648 Last post February 08, 2010, 11:33:36 AM
by adhe irvan hk
Info seputar gunung di Indonesia « 1 2 ... 13 14 » hijjau 195 19238 Last post November 20, 2009, 06:42:46 PM
by Andi SERGAP !
Radical Mountaineer (Is it just me here???) « 1 2 » fear83factor 24 2064 Last post April 28, 2009, 03:55:45 AM
by Krupoek_MLarat
minta info kondisi semeru « 1 2 3 » fazri 44 3593 Last post August 19, 2010, 06:42:55 PM
by Dwee
Oh Hutanku yang Gundul « 1 2 ... 5 6 » hitamhitam 84 10642 Last post February 11, 2009, 10:31:53 AM
by Aiwa

TinyPortal v1.0.5 beta 1© Bloc