Neh mantap neeh
http://anacuyun.blog.friendster.com/2008/08/naek-gunung-pk-sepeda/Mendaki
gunung dengan cara berjalan kaki lazim dilakukan petualang. Pemanjatan
puncak gunung pun jamak dikenal. Namun, mendaki gunung dengan membawa
sepeda ke titik tertinggi sebuah gunung jarang dilakoni. Maklum, bagi
sebagian petualang cara ini dianggap merepotkan. Perkaranya, membawa
perlengkapan pendakian saja sudah ribet apalagi harus dibebani dengan
memanggul sepeda.
Yeah!!!”
Yudi Kurniawan memekik lantang. Petualang kawakan asal Klub Sepeda
Gunung Avtech seolah berhasil melepaskan beban yang menghimpit tubuh.
Sejurus kemudian, Yudi menyalami kami satu per satu. Dengan senyum
terkulum, ia berujar, “Terima kasih semuanya. Tanpa bantuan
teman-teman, pendakian ini takkan bisa sukses seperti sekarang.” Luapan
kegembiraan dan kelegaan itu muncul saat kami berhasil mencapai titik
2958 mdpl, tempat paling tinggi di Gunung Gede.
Bagi
kami mendaki gunung paling ngetop di Jawa Barat ini adalah pengulangan.
Yudi – pemimpin kami dalam ekspedisi Klub Sepeda Gunung Avtech –
malahan sudah berkali-kali “muncak”. Namun pendakian kali ini terasa
sangat istimewa. Mendaki sekaligus membawa sepeda hingga puncak. Tentu
saja ini merupakan pengalaman pertama buat seluruh peserta ekspedisi
kecil klub sepeda asal bilangan Sunter, Jakarta Utara.
“Wah,
seumur-umur baru kali ini saya naik gunung bawa sepeda,” cetus Devi
Rahardiono dan Deden Sutisna, kompak. Kedua rekan asal True North –
lembaga pendidikan alam terbuka dari
Bandung – datang memenuhi undangan Yudi. Boleh jadi keduanya penasaran
lantaran ingin mencicipi pendakian unik ini. Deden dan Devi secara
bergantian ikut memanggul sepeda. Sayang, Deden tak ikut “muncak”.
Pasalnya, dia harus menjaga Edith Yuda yang terkena “serangan”
influenza. Keduanya memilih diam di base camp kamidi Alun-alun Barat Surya Kencana saja. Hendra – rekan kami asal Cibodas
– cuma bisa cengar-cengir begitu mencapai puncak Gede. “Gelo, sepeda nepi ka puncak oge,
(Gila, sepeda nyampe puncak juga),” ujarnya sambil ngos-ngosan. Omen –
relawan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP) – juga ikut
geleng-geleng kepala. Anak muda asal Gunung Putri, Cipanas ini,
langsung mengayuh sepeda mountain bike jenis cross country milik Avtech itu. “Ayo, Men ulin jeung urang
(Ayo, Men main sama saya),” ajak Hendra. Iwan Budiyanto – salah
seorang anggota Klub Sepeda Gunung Avtech – ikut berbunga-bunga. Pemuda
gondrong berkacamata ini merasa komplet dalam petualangan kali ini.
Sebab, sejak start dari sekretariat kami di kawasan Danau
Sunter, dia sudah bertekad akan mengayuh sepeda hingga puncak Gunung
Gede. Dan, akhirnya kesampaian. “Berikutnya, gue mau ke (Gunung)
Tambora (Nusa Tenggara Barat) pakai sepeda.” Sambil berfoto-foto, kami
bergantian mengayuh sepeda di gigir kawah Gede. Tentu saja, ini menarik
perhatian siapa saja yang ada di sekitar puncak Gede. Mereka
terheran-heran. Beberapa di antaranya, sempat meminta foto bareng dan
meminjam sepeda. Hehmm.. asyik juga menjadi pusat perhatian ya.
Lewat Jalur Putri
Saat
menerima tawaran mendaki Gunung Gede dengan sepeda, saya sedikit
merenung. Apa iya, kami akan sanggup melakukannya. Bukan apa-apa,
pendakian gunung dengan sepeda bukan petualangan yang lazim. Apalagi,
fisik saya sudah tak seperti dahulu. Maklum, jarang berolahraga
lantaran harus berkejaran dengan deadline pekerjaan.
“Udah
dah, cobain aja dulu. Lagipula bawa sepedanya gantian kok,” rayu Yudi –
pentolan Klub Sepeda Gunung Avtech - yang diangguki Edith Yuda. Singkat
cerita, tawaran saya terima. Bukan apa-apa, saya juga ingin merasakan
kebanggaan dalam pendakian gunung dengan membawa sepeda. Petualangan
seperti ini tentu saja identik dengan satu nama: Bambang Hertadi Mas
alias Paimo. Pria kelahiran 17 Maret 1958 itu memang ngetop lewat
petulangan sepeda jarak jauh. Waktu mendaki gunung, Paimo tetap membawa
sepeda kesayangannya. Masih ingatkan
dengan Jaya Giri Saddle Marathon pada 1987. Bersama Gunawan Ahmad
(Ogun) dan Mamay S. Salim, Paimo mencatatkan diri dalam sejarah:
menjadi orang Indonesia pertama yang bersepeda hingga Puncak Kilimanjaro (5.869 mdpl). Pada 2000, Paimo bersepeda di kawasan Himalaya dalam ekspedisi Mera Peak – Khumbu Himal – Nepal. Sejak Juli lalu, dia menggelar kegiatan Transylvania – Alps Cycling Trip 2004.
Saya
pun sering membaca tulisan-tulisan Paimo bagaimana asyiknya bersepeda
ke gunung. Dia selalu mengatakan, bersepeda bukan cuma bikin sehat
tetapi sekaligus mengirit ongkos transportasi. Nah, karena alasan
itulah saya segera mempersiapkan diri ikut dalam ekspedisi Klub Sepeda
Gunung Avtech. Lewat perhitungan cermat, kami sepakat untuk menempuh
rute pendakian dari Gunung Putri, Cipanas. Alasannya sederhana: jalur
Gunung Putri relatif lebih cepat untuk menggapai puncak. Meski,
tantangan yang harus dihadapi medan pendakian yang berat .
Jalur
Gunung Putri memang tak ada kompromi dan pelit jalan datar. Dari awal,
kami sudah disuguhi tanjakan, ada yang seperti undakan tangga hingga
ada yang terjal dengan medan
berbatu-batu dan sisa akar pohon yang melintang. Sepeda hanya bisa
dipakai hingga batas antara kebun masyarakat dengan hutan TNGP.
Tanjakan pertama kami hadapi saat perjalanan mencapai pos milik Gunung
Gede Operation – markas relawan TNGP. Demi hemat tenaga, sepeda kami
tuntun sampai bertemu jalur yang lebih landai. Di Pos GPO, kami
disambut M. Said, pentolan relawan yang sudah “nongkrong’ di Pos Gunung
Putri sejak 1986. Lepas dari Pos GPO, jalur tanah berbatu-batu dengan
kemiringan sekitar 30 – 45 derajat. Di kiri-kanan pemandangan masih
didominasi kebun liki masyarakat. Sedang di hadapan kami, hutan TNGP
seperti merayu untuk memacu perjalanan. Sebelum memasuki batas hutan,
kami sempat beristirahat di warung terakhir. “Gue jalan duluan ya.
Paling-paling entar kesusul,” sebut Iwan. Bersama Deden, dia mulai
mengayuh sepeda di jalur datar sebelum menuruni satu-satunya turunan
sebelum kembali mendaki melewati jalur batu-batu. Di tengah jalan, kami
mendapat hadiah: guyuran hujan. Wuiihh… uji mental pun dimulai. Hujan
yang makin deras di awal malam itu makin menambah ketegangan. Jalur
berbatu seperti undakan tak lagi kelihatan. Sementara kami harus meniti
undakan keseimbangan tak boleh hilang, meleng sedikit sepeda bisa
tersangkut batang pohon. “Wah, berat juga ya,” kata Deden sambil
tersengal-sengal. Untuk mencapai pos pusat informasi Gunung Putri
sepeda harus dipanggul. Pemanggulan sepeda sebetulnya sudah dilakukan
sejak memasuki batas hutan TNGP. Mau bagaimana lagi, tanjakan sudah tak
mungkin dilewati dengan mengayuh sepeda. Karena membawa sepeda,
pendakian terasa lambat sekali. Pos pusat informasi yang jaraknya 1,3
kilometer harus kami tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Apalagi dalam
kondisi basah begini. Walhasil, begitu sampai di pos pusat informasi
kami segera memutuskan untuk bermalam di tempat ini. Fuiihh… basah,
basah dan semua basah.
Usai makan malam, kami melakukan briefing
dan evaluasi perjalanan. Kami lebih banyak membahas cara membawa sepeda
yang efektif. Terlebih, perjalanan berikutnya dipastikan sepeda akan
dipanggul terus. Saya dan Edith berdiskusi mengenai pengambilan gambar
untuk kebutuhan dokumentasi. “Man, (Nikon) F4 bakalan gue masukin ransel. Paling-paling gue
pakai FM3A. Jadi lo yang pegang miniDV ya,” atur Edith. Saya mengangguk
setuju. Dalam perjalanan ini, kami membawa Nikon F4 dengan lensa tele
80 – 200 mm, FM3A dengan lensa lebar (wide angle), Nikon Coolpix 2100
dan Nikon F75 lensa AF Nikkor 28 – 80 mm serta lensa AF Nikkor 70 – 300
mm. Untuk kebutuhan pengambilan gambar bergerak, tersedia satu unit JVC
MiniDV.
Panggul Sepeda sampai Alun-alun
Esok
harinya, kami bergerak ke shelter 2, Legok Lenca (2150 mdpl). Sebelum
mencapai shelter ini kami sempat melewati pos I yang berupa bangunan
tembok, kira-kira seukuran pos hansip. Perjalanan ke shelter 2 tetap
dengan cara yang sama: panggul sepeda. Iwan Budiyanto dan Hendra
terlihat kerepotan mengatur nafas saat melintasi tanjakan antara
shelter 4 Lawang Seketeng (2500 mdpl) hingga shelter 5 Simpang Maleber
(2626 mdpl). Meski jaraknya hanya 1 kilometer, tetapi tanjakan yang
harus dilahap medannya benar-benar bikin kesal. Terjal dengan rintangan
akar-akar pohon yang melintang di tengah jalur. Sebagai informasi,
jarak antara pos Gunung Putri hingga shelter 4 sekitar 3,1 kilometer.
Gara-gara
jalur yang terjal, sepeda yang kami bawa seringkali terantuk akar atau
tersangkut dahan. Pendakian sangat lambat. Baru beberapa kali naik,
sudah istirahat. Teori 30 menit berjalan dengan diselingi 5 menit
istirahat sama sekali tak terpakai. “Yah, yang penting enjoy
aja lah,” ucap Yudi kalem. Sementara Hesti dan Murni anggota putri klub
sepeda ini segera mengangguk setuju. “Sebelum Lawang Seketeng,
tanjakannya nggak terlalu curam sih. Jadi, kita nggak
terlalu ngos-ngosan, tapi habis itu tanjakannya betul-betul bikin
capek,” sebut Deden saat beristirahat di shelter 5 Simpang Maleber.
Lepas dari shelter 5, rute tanjakan belum usai. Tetapi tidak seterjal
yang sebelumnya. Hitung punya hitung, pendakian dari pusat informasi
hingga shelter 6 Alun-alun Timur Surya Kencana (2750 mdpl) dalam 7 jam
perjalanan. Padahal dalam pendakian normal rute pos Gunung Putri –
Alun-alun Timur Surya Kencana yang berjarak sekitar 5,3 kilometer dapat
ditempuh sekitar 3 jam.
Lantaran
terbilang langka, kabar pendakian Gunung Gede dengan membawa sepeda
sudah tersiar kemana-mana. Saking penasaran, beberapa penduduk sampai
mengikuti perjalanan kami. Mereka seperti tak habis pikir, kenapa ada
orang yang mau bersusah payah bersepeda ke puncak gunung. Saat melihat
sepeda lebih sering dipanggul, mereka pun berkomentar,” Ini mah namanya
sepeda naik orang.” Keheranan dan ketakjuban juga menyelimuti peserta
dan panitia Jambore Jejak Petualang. Tayangan dokumenter yang disiarkan
TV 7 ini kebetulan pada saat yang sama sedang menggelar ajang kumpul
komunitas penggemar mereka. Rute pendakian yang mereka lalui, mendaki
dari Gunung Putri dan turun lewat jalur Cibodas. Sebagai pusat
kegiatan, terpilih Alun-alun Barat Surya Kencana – lembah dengan
hamparan rumput dan tanaman eidelweiss di antara Gunung Gumuruh dan
Puncak Gunung Gede.
Dari
Alun-alun Barat Surya Kencana ke Puncak Gunung Gede pendakian hanya
makan waktu 45 menit. Maklum jaraknya memang dekat hanya, setengah
kilometer saja. Tanpa beban, pendakian ke puncak rata-rata makan waktu
setengah jam. Malahan, teman-teman Wanadri dari tim Ekspedisi Carstensz
Wanadri 2004 sanggup melahap perjalanan ini 30 menit pulang pergi.
Jalur
ke puncak Gede di dominasi batu-batu besar yang mudah lepas. Akar pohon
yang melintang juga menyulitkan kami memanggul sepeda. Di belakang
kami, pemandangan lembah Surya Kencana terhampar indah. Di kejauhan
warna-warni tenda milik peserta Jambore Jejak Petualang TV7 menghiasi
pemandangan itu. Sayup-sayup terdengar kehebohan acara itu. Hesti,
Murni dan Devi lebih dulu mencapai puncak Gede. Berikutnya saya, Yudi,
Hendra, Omen dan Iwan. Di sekitar kawah, kami masih mendapat
pemandangan bagus. Kabut belum lagi turun jadi kegagahan puncak
Pangrango masih sempat kami abadikan. Terima kasih Tuhan.